Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Saturday, 10 March 2018

Mengayunkan Rindu


Terbesit di antara tebaran pinus merkusii
Aroma sentuhan itu menyengat memori
Bak meriam, meledakkan ingatan nyata
Ada rindu-rindu di setiap bekas jejak
Aku terhenti, sesuatu datang terasa nikmat
Masih berada di pojokkan gubuk layu
Masih kuingat lantunan sajak rindu
Berdiri dan menari-nari di antara dua pundak
Ekspresi tertawan pada wajah sang ksatria
Memori terbenam di aliran darah merah
Bayang-bayang bersetafet ria di kepala
Mengingatkan kembali benaman memori
Di antara setumpuk sajak di masa lalu
Aksi nyata dalam otakku hanya tertuju pada rindu
Satu rindu dan dua rindu pada alunan perjalanan
Perjalanan masa lalu membawaku bersama
Di saat seribu tangan dengan sejuta langkah
Berlari-lari menapak satu persatu cita-cita
Mereka membawaku bersamanya
Kau pun di antara mereka menjadi kita
Berjalan di arah jalur dan step yang sama
Kearah mata angin mengayun seirama
Gudang-gudang kertas kebanggaan
Laboratorium kebersamaan menawan
Lapangan penuh debu memanaskan
Semua itu masih melayang saat ini
Menari-nari di indahnya imajinasiku
Desir desir desir
Ribuan alunan sajak hati mendesirkan
Haru biru bersemanyam di ujung merah ini
Langkah ini tak mungkin berhenti
Saat ini jalananan seirama pula
Mata angin muara tak lagi sama
Hati-hati ini terikat di gelombang rindu
Doa dan rindu pengikat ekspresi
Mengalun dan merindu

(Sajak lama di pagi hari yang penuh kerinduan)

Sunday, 14 February 2016

Siapa kau?

Lari.. kakiku lelah
Siapa kau?
Aahh..! apa semua ini?
Kakiku terseok disini
Tanganku..kuat, sakit telingaku

Kau..kau..
Siapa kau?
Jangan dibelakang, didepan
Jangan dikanan, dikiri
Jangan diatas, dibawah
Ini terang…
Ini gelap..

Berhenti! Hentikan!
Siapa kau?
Lagakmu.. memalukan
Tak sanggup kau melebihiku
Kau bodoh..bodoh!
Tapi, apa yang kusangka?
Entahlah, akal bulusmu itu
Aku cerdas, tapi kau cerdik
Siapa kau?

Aku kalah.. kau menang..
Aku mengalah, kau menanglah
Cepat! keluar!
Aku sudah mengalah, aku sudah kalah
Tapi kau pergilah!
Aahh..! kenapa kau?
Siapa kau?
Sungguh ku sudah lelah

Thursday, 9 April 2015

Buaian Hatinya



Awan merenung, seakan akan hatinya bergemuruh untuk menumpahkan segala inginnya
Dan rasa terdesak atas perih matanya yang tak lama dalam hitungan detik akan basah kuyup
Ia hanya bisa mengelilingi bulatnya morfologi bumi yang teramat lekat di sampingnya
Entah apa yang dipikirkannya,
 Ia hanya menunggu kehedak yang lebih berhak atas dirinya
Ia hanya menjalankan perintah sang Maha Raja
Tuk memberi curahan nikmat yang indah pada abdi Raja
Barangkali banyak yang tak merasa,
Hati telah menjadi sebuah benda yang keras yang tak mau terima
Dan terus memaksa godaan yang terus menganggu disampingnya
Namun Raja amatlah baik hati nan penyayang
Tetapi Raja pun hanya memberikan hadiah luar biasa pada abdi yang bisa menggembirakan apa yang Raja inginkan
Sadarlah ia akan tindak-tanduknya yang menyedihkan itu
Kini hanya ia dan Sang Raja lah yang tahu.

Wednesday, 18 February 2015

Tonggak Kemuliaan



Fajar terlihat disudut mata yang baru keluar dari peraduan
Tak ayal, cepat ia bercengkerama dengan berisiknya air
Kayu-kayu kotak itu membalikkan punggungnya menjauh
Harapan ia berikan walaupun hanya sekadar begitu
Gerak-gerak otot jantung mulai sadar dan bersyukur
Tak ada yang ia pikul lagi selain serentetan peristiwa penantian
Betapapun debu-debu itu menempeli dan mengotori halus
Tetaplah dan menjadi tetap tak ada halangan tak menghindar
Lanjutlah memandangi semua disekelilingnya
Tak henti pula tetap berjalan disegala rupa
Ia kan menjadi kuat, meski lemah
Ia kan menjadi kuat, meski energi tumpah
Ia kan menjadi kuat, meski tanah menyengsara
Ia kan menjadi kuat, karena ia selalu percaya
Di atas langit masih ada langit, di atasnya masih berlapis-lapis
Gersangnnya takkan mampu melukai
Sukanya akan turut menyertai
Karena ia yakin, yakin, dan yakin
Bahwa sujudnya pada Sang Pencipta tak akan sia-sia

Saturday, 14 February 2015

Suka Puisi ini~



Ini nih puisi kesukaan ane, dari seorang sastrawan Indonesia, pak TAUFIQ ISMAIL~
KEMIS PAGI
Oleh: Taufiq Ismail


Hari ini kila tangkap tangan-tangan Kebatilan
Yang selama ini mengenakan seragam kebesaran
Dan menaiki kereta-kereta kencana
Dan menggunakan meterai kerajaan
Dengan suara lantang memperatas-namakan
Kawula dukana yang berpuluh-juta
Hari ini klta serahkan mereka
Untuk digantung di tiang Keadilan
Penyebar bisa filnah dan dusta durjana
Bertahun-tahun lamanya

Mereka yang merencanakan seratus mahligai raksasa
Membeli benda-benda tanpa-harga di manca-negara
Dan memperoleh uang emas beratus-juta
Bagi diri sendiri, di bank-bank luar negeri
Merekalah penganjur zina secara terbuka
Dan menistakan kehormatan wanita, kaum dari ibu kita
Hari ini kita tangkap tangan-tangan Kebatilan
Kebanyakan anak-anak muda berumur baru belasan
Yang berangkat dari rumah, pagi tanpa sarapan
Telah kita naiki gedung-gedung itu
Mereka semua pucat, tiada lagi berdaya
Seorang ketika digiring, tersedu
Membuka sendiri tanda kebesaran di pundaknya
Dan berjalan perlahan dengan lemahnya.
1966

Thursday, 12 February 2015

Tertinggal sejenak



Terperanjat dalam renungan
Hati yang sakit
Sakitku dalam relung akan hidup
Teringat semua angan
Mutiara-mutiara yang terdengar
Seolah tenggelam dalam karam kealpaan

Tiada pernah tersadari
Kerikil tajam dibiarkan menusuk
Surga fatamorgana melenakan
Noda terperanjat perlahan-lahan
Banyak, entah berapa lebarnya

Laut putih mulai dijelajah
Alam bawah sadar terlupa
Naiknya kadar sadar
Kadang lupa kadang ingat
Syukurku Tuhan
Maafkan daku karena semua tertinggal sejenak

Thursday, 6 November 2014

Puisi baru euy..



Hanya Seonggok Asa
Oleh: Nadyatul Husna/BASTIND ‘14


Secangkir kopi panas
Di bawah silaunya ibukota
Meluncurkan ingatanku ke punggung waktu
Tiba-tiba semua terasa berbeda
Sesuatu itu mengubah segala rasa
“Yes, I will do!”
“Di jaga sampai akhir”
Tak pernah terimpikan, semua terubahkan
Pernah terabaikan dan terhiraukan
Namun.. bersamanya, aku hidup!
Pernah tersesali pula
Karna hidup itu Realistis!
nggak’ selalu seperti fairy tale
Hanya angan-angan belaka

          Disini, aku melangkah dan mengukir
          Tergetak kakiku melaju tanpa ragu
          Terukir jejak dengan bekas suka duka
          Dengan segenap kekuatan menghindari lintasan pecundang
          Yang terbayang jiwa ketakutan
          Dalam kerikil-kerikil perjuangan
          Kubangkitkan menjadi satu kesatuan pemenang
          Pena bergoyang melukiskan harapan 
Isak tangis yang dulu tak kuasa
Kini tergenang dalam lentera kegelapan
Tubuh kokoh berpijak di atas kegigihan




Titik fatamorgana kan tersingkir
Sebutir demi sebutir asa tergenggam
Melirik jalan ke depan ditemani sejuta keberanian
Menghitung bulir-bulir impian
Yang berlomba untuk tercurahkan
          Pernahku menjerit, menangis, menahan cercaan takdir
          Terpaku dalam angan yang tiada bertepi
          Biarlah gundah gulana bersemayam pada keadaan
          Tak kubiarkan meretakkan segala asa
          Tak kubiarkan luluh hancur berantakan
          Oleh setitik goresan debu yang menari bersama angin
Biarlah asa tetap hinggap bersama awan
Berkelana diantara ribuan bintang harapan
Segera kunaiki tangga langit, ku gapai dan ku aktualisasikan

Jika dentang waktu tak izinkan menghitung masa
Maka ridhoi aku tuk menggapainya sebelum akhir tiba
Sebelum sisa-sisa waktu untukku telah di penghujung tombak
Biarkanlah kutebarkan segala asa yang ku gapai pada dunia!
Yang kan mengenang dan mengukir indah namaku di tubuhnya